PWM Jambi

Gerakan Islam, Dakwah Amar Ma'ruf Nahi Munkar

Milad yang Hampir Terlupakan Oleh: Agus setiyono

By Admin on May 25, 2026

Milad yang Hampir Terlupakan Oleh: Agus setiyono

Milad yang Hampir Terlupakan

Oleh: Agus setiyono

Di tengah gegap gempita kalender digital, notifikasi telepon genggam, dan hiruk-pikuk penanggalan Masehi yang menjadi “agama administratif” manusia modern, ada satu tanggal yang sering luput dari ingatan warga Persyarikatan sendiri: 8 Dzulhijjah.

Padahal pada tanggal itulah, tahun 1330 Hijriyah, lahir sebuah gerakan tajdid yang kelak mengubah wajah Islam Indonesia: Muhammadiyah.

Ironis memang. Sebuah gerakan yang lahir dari rahim kalender Hijriyah, justru sering diperingati dengan gegap gempita kalender Masehi. Seolah-olah ingatan kolektif umat perlahan mengalami migrasi peradaban; dari langit ke layar, dari hilal ke notifikasi, dari ruh spiritual menuju ritme administratif.

Akibatnya, 8 Dzulhijjah sering berlalu begitu saja. Tidak ramai. Tidak viral. Tidak menjadi “trending topic”. Bahkan mungkin kalah pamor dibanding tanggal diskon belanja daring dan jadwal konser musik.

Padahal, bila merunut hitungan Hijriyah, Muhammadiyah hari ini telah menapaki usia 117 tahun. Usia yang tidak muda untuk sebuah gerakan sosial-keagamaan. Sebuah perjalanan panjang yang ditempa oleh kolonialisme, pergolakan politik, perubahan sosial, hingga badai modernitas digital yang hari ini mengubah cara manusia berpikir dan beragama.

Namun begitulah zaman bekerja. Dunia modern berhasil membuat manusia sangat hafal tanggal gajian, tetapi perlahan lupa tanggal kelahiran peradabannya sendiri.

Dari Langgar Kecil Menuju Peradaban Besar

Lahirnya Muhammadiyah bukanlah ledakan rean volusi yang gaduh. Ia tumbuh dari kesadaran sunyi seorang ulama visioner, Ahmad Dahlan, yang membaca zaman dengan mata tajam dan hati yang gelisah.

Beliau memahami bahwa umat tidak cukup hanya diajak menangis di mimbar-mimbar pengajian, tetapi juga harus dibangunkan melalui pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, dan pembebasan dari kebodohan. Islam tidak boleh sekadar menjadi simbol ritual, melainkan harus menjelma menjadi kekuatan peradaban.

Karena itu Muhammadiyah hadir bukan untuk memusuhi tradisi, melainkan untuk memurnikan orientasi. Bukan untuk membenci modernitas, tetapi menaklukkannya agar tetap tunduk kepada nilai-nilai ketuhanan.

Di sinilah keunikan Muhammadiyah: ia religius tanpa menjadi ekstrem, modern tanpa kehilangan adab, dan rasional tanpa tercerabut dari wahyu.

Dewasa dalam Inovasi, Matang dalam Administrasi

Memasuki usia 117 tahun Hijriyah, Muhammadiyah menjelma menjadi salah satu organisasi Islam modern terbesar di dunia. Amal usaha tumbuh di mana-mana; sekolah, universitas, rumah sakit, panti sosial, hingga gerakan kemanusiaan lintas negara.

Dari ranting-ranting kecil di desa hingga forum internasional, Muhammadiyah menunjukkan bahwa dakwah tidak cukup hanya dengan ceramah, tetapi juga dengan tata kelola yang rapi, administrasi yang modern, dan inovasi yang berkelanjutan.

Barangkali di sinilah letak “kesalehan administratif” Muhammadiyah: beragama bukan hanya urusan sajadah, tetapi juga laporan keuangan, manajemen lembaga, pelayanan publik, dan transparansi sosial.

Sebab Islam yang besar tidak dibangun oleh semangat semata, tetapi juga oleh disiplin tata kelola.

Namun kedewasaan itu tentu tidak lahir tanpa dinamika. Muhammadiyah bukan organisasi malaikat. Ia dihuni manusia-manusia dengan pikiran, ego, sudut pandang, dan perbedaan karakter. Kadang muncul riak. Kadang lahir silang pendapat. Kadang ada kegaduhan kecil yang terasa besar karena diperbesar media sosial.

Tetapi sejauh ini, badai-badai itu selalu berhasil dilalui. Sebab Muhammadiyah memiliki tradisi musyawarah yang panjang dan budaya organisasi yang relatif matang.

Di tengah dunia yang semakin mudah marah, Muhammadiyah masih berusaha memilih jalan tabayyun.

Di tengah budaya saling membatalkan, Muhammadiyah tetap mencoba merawat persaudaraan.

Dan di tengah kerasnya polarisasi zaman, Muhammadiyah terus belajar menjadi rumah yang teduh.

Moderasi sebagai Jalan Peradaban

Hari ini, ketika sebagian umat terjebak pada dua kutub ekstrem, antara keberagamaan yang terlalu keras dan modernitas yang terlalu bebas — Muhammadiyah menawarkan satu jalan tengah: moderasi yang berkemajuan.

Moderasi dalam Muhammadiyah bukan berarti lembek dalam prinsip, melainkan bijak dalam cara.

Ia tidak anti budaya, tetapi juga tidak mabuk budaya.

Ia menerima kemajuan teknologi, namun tidak rela moralitas dikorbankan.

Ia terbuka pada perubahan, tetapi tetap menjaga fondasi tauhid.

Karena itu konsep Islam Berkemajuan menjadi sangat relevan dalam situasi kekinian. Dunia sedang mengalami krisis makna. Manusia modern memiliki teknologi canggih, tetapi kehilangan ketenangan batin. Informasi melimpah, tetapi kebijaksanaan menipis. Media sosial ramai oleh ceramah, namun sunyi dari keteladanan.

Dalam kondisi seperti ini, Muhammadiyah sesungguhnya memiliki peluang besar untuk kembali menjadi suluh peradaban.

Bukan dengan kemarahan.

Bukan dengan sensasi.

Bukan pula dengan politik kebencian.

Tetapi dengan ilmu, pelayanan, dan akhlak sosial.

Mengingat Kembali yang Hampir Hilang

Milad Hijriyah Muhammadiyah sejatinya bukan sekadar seremoni tahunan. Ia adalah momentum untuk mengingat kembali akar ruhani Persyarikatan. Bahwa gerakan ini lahir dari semangat tajdid, keikhlasan dakwah, dan keberanian membaca zaman.

Mungkin kita memang hidup di era ketika kalender Hijriyah kalah populer dibanding kalender Masehi. Tetapi setidaknya, jangan sampai umat kehilangan kesadaran sejarahnya sendiri.

Sebab organisasi yang besar bukan hanya yang memiliki gedung tinggi dan amal usaha banyak, tetapi juga yang mampu menjaga ingatan kolektif tentang nilai-nilai kelahirannya.

Dan di antara riuh rendah dunia modern itu, 8 Dzulhijjah datang kembali mengetuk kesadaran kita:

Apakah Muhammadiyah hanya akan dikenang sebagai institusi besar?

Ataukah tetap hidup sebagai gerakan ilmu, gerakan pencerahan, dan gerakan Islam yang menebarkan rahmat bagi semesta?

Wallahu a' lam bishshawab

← Back to Posts