Green Qurban Muhammadiyah: Ketika Ibadah Menyentuh Langit dan Menjaga Bumi
By Admin on May 30, 2026
Oleh; Agus Setiyono)*
Muhammadiyah tampaknya tidak pernah kehabisan energi untuk melahirkan inovasi dan kreasi dalam mengembangkan dakwah. Di tengah dinamika zaman yang terus berubah, persyarikatan ini senantiasa menghadirkan gagasan-gagasan segar yang menjadikan dakwah tidak hanya berhenti pada ceramah dan nasihat (bil lisan), tetapi juga diwujudkan dalam aksi nyata yang menyentuh kehidupan masyarakat (bil hal).
Semangat inovatif tersebut kembali tampak pada momentum Idul Adha 1447 Hijriah. Selain program RendangMu yang digagas oleh Lazismu sebagai bentuk pengelolaan daging kurban yang lebih efektif dan berkelanjutan, Muhammadiyah melalui Majelis Lingkungan Hidup (MLH) Pimpinan Pusat Muhammadiyah menghadirkan sebuah terobosan yang sarat makna, yaitu Green Qurban.
Program ini lahir dari kesadaran bahwa ibadah kurban bukan sekadar ritual penyembelihan hewan dan distribusi daging kepada masyarakat. Lebih dari itu, kurban merupakan momentum spiritual yang harus menghadirkan kemaslahatan yang lebih luas, termasuk bagi lingkungan hidup yang menjadi amanah Allah SWT kepada manusia.
Ketua Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah, H. Azrul Tanjung, dalam berbagai kesempatan menyampaikan bahwa semangat berkurban hendaknya berjalan seiring dengan upaya menjaga kelestarian alam.
“Di samping melaksanakan ibadah, kita juga harus menjaga dan melestarikan alam melalui cara berkurban yang ramah lingkungan. Inilah yang kami sebut sebagai Green Qurban.”
Gagasan tersebut bukan sekadar slogan. Green Qurban diwujudkan melalui berbagai langkah konkret yang menjadikan pelaksanaan ibadah kurban lebih berwawasan lingkungan.
Dalam proses penyembelihan, misalnya, MLH Muhammadiyah mendorong penerapan metode penyembelihan yang lebih manusiawi dan sesuai dengan prinsip kesejahteraan hewan. Selain itu, setiap pelaksanaan kurban juga diiringi dengan program penanaman pohon sebagai bentuk ikhtiar mengembalikan keseimbangan ekologis dan memperkuat komitmen terhadap pelestarian lingkungan.
Pesan yang dibangun sangat jelas: setiap tetes darah kurban hendaknya melahirkan kehidupan baru bagi bumi melalui tumbuhnya pohon-pohon yang kelak memberi manfaat bagi manusia dan alam semesta.

Tidak berhenti pada proses penyembelihan, konsep Green Qurban juga menyentuh aspek distribusi daging kurban. MLH Muhammadiyah mengimbau panitia kurban untuk meminimalkan penggunaan kantong plastik sekali pakai dan menggantinya dengan kemasan yang lebih ramah lingkungan. Pengelolaan limbah hasil penyembelihan, termasuk darah dan kotoran hewan, juga menjadi perhatian serius agar tidak mencemari lingkungan dan mengganggu kenyamanan masyarakat sekitar.
Dengan demikian, ibadah kurban tidak hanya menghadirkan keberkahan sosial, tetapi juga meninggalkan jejak ekologis yang positif.
Untuk merealisasikan program tersebut, Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah menjalin kerja sama dengan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) dalam penyaluran sejumlah hewan kurban ke berbagai daerah di Indonesia. Salah satu penerima program tersebut adalah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jambi, yang kemudian meneruskan amanah hewan kurban tersebut kepada Muhammadiyah Boarding School Ahmad Dahlan Jambi untuk dikelola dan disembelih sesuai dengan prinsip Green Qurban.
Kolaborasi ini menunjukkan bahwa sinergi antar lembaga dapat melahirkan manfaat yang lebih luas bagi umat. Kurban tidak lagi dipandang hanya sebagai kegiatan tahunan, melainkan sebagai instrumen pendidikan sosial, spiritual, dan ekologis yang terintegrasi.
Menariknya, konsep Green Qurban mendapat sambutan positif dari berbagai Pimpinan Wilayah Muhammadiyah yang menerima program tersebut. Banyak pihak menilai bahwa pendekatan ini merupakan langkah progresif yang menjawab tantangan zaman, ketika isu perubahan iklim, kerusakan lingkungan, dan pengelolaan sampah menjadi persoalan global yang membutuhkan perhatian bersama.
Di sinilah Muhammadiyah kembali menunjukkan karakter dakwahnya yang berkemajuan. Sebuah dakwah yang tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Tuhan (hablum minallah), tetapi juga hubungan manusia dengan sesama dan alam semesta (hablum minal alam). Sebab dalam pandangan Islam, menjaga lingkungan bukanlah aktivitas tambahan, melainkan bagian dari ibadah itu sendiri.
Green Qurban menjadi bukti bahwa nilai-nilai keislaman selalu relevan untuk menjawab kebutuhan zaman. Bahwa pengorbanan tidak hanya diukur dari besarnya hewan yang disembelih, tetapi juga dari sejauh mana ibadah tersebut menghadirkan manfaat bagi kehidupan yang lebih luas.
Ketika kurban mampu memberi makan yang lapar, menumbuhkan pohon yang menghijaukan bumi, mengurangi sampah plastik, serta menjaga kebersihan lingkungan, maka sesungguhnya ibadah itu telah menjelma menjadi pesan rahmat yang utuh, rahmat bagi manusia, rahmat bagi alam, dan rahmat bagi seluruh semesta.
Inilah Green Qurban Muhammadiyah: ibadah yang menyejahterakan umat, sekaligus merawat bumi sebagai amanah Allah SWT.
Wallahu a' lam bish shawab