Dunia Pendidikan Bukan Tempat Kekerasan: PW IPM Jambi Sesalkan Insiden di SMK N 3 Tanjab Timur
By Admin on Jan 15, 2026
Oleh : Muhammad Ade Tisna*)
TANJUNG JABUNG TIMUR – Insiden memilukan yang melibatkan guru dan siswa di SMK N 3 Tanjung Jabung Timur pada 13 Januari 2026 lalu menjadi sorotan publik. Kejadian pengeroyokan tersebut memicu keprihatinan mendalam mengenai kondisi hubungan antara Pendidik dengan peserta didik di lingkungan sekolah. Peristiwa ini menambah daftar panjang tantangan dunia pendidikan dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan harmonis.
Kejadian yang mencoreng marwah institusi pendidikan ini memicu reaksi keras dari berbagai kalangan, terutama dari PW IPM JAMBI. Aksi kekerasan tersebut dilaporkan terjadi di lingkungan sekolah saat jam pelajaran berlangsung, yang mengakibatkan pembelajaran terhenti dan tidak kondusif.
Respons Tegas PW IPM Jambi
Menanggapi insiden memilukan tersebut, Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PW IPM) Provinsi Jambi menyatakan sikap tegas. Sebagai organisasi yang fokus pada pemberdayaan pelajar, IPM menilai kejadian ini sebagai alarm keras bagi sistem pendidikan dan pembentukan karakter di sekolah.
Ketua Umum PW IPM Provinsi Jambi-Muhammad Ade Tisna, menyatakan bahwa pihaknya sangat menyesalkan terjadinya insiden tersebut. Menurutnya, kekerasan dalam bentuk apa pun dan oleh siapa pun tidak memiliki tempat di institusi pendidikan.
Ade menegaskan bahwa dalam menanggapi kasus ini, semua pihak harus melihat secara jernih dan tidak membenarkan tindakan kekerasan, baik yang dilakukan oleh siswa maupun jika terdapat pemicu dari pihak pendidik.
"Kami sangat menyesalkan apa yang telah terjadi di SMK N 3 Tanjung Jabung Timur. Secara organisasi, saya menegaskan bahwa kami tidak mendukung tindakan tersebut. Kami tidak membenarkan apa yang dilakukan oleh siswa, namun kami juga tidak membenarkan jika ada tindakan dari pihak guru yang melampaui batas," ujar Muhammad Ade Tisna dalam pernyataan resminya, Rabu (14/1/2026).
Lebih lanjut, Ade Tisna menyampaikan bahwa kejadian ini harus menjadi momentum evaluasi bagi semua elemen pendidikan. Ia menekankan bahwa guru adalah teladan, sementara siswa adalah pembelajar yang harus mengedepankan etika.
"Dunia pendidikan bukan tempat kekerasan. Kejadian ini adalah kerugian besar bagi kedua belah pihak. Kami menyuarakan sikap tegas agar hal seperti ini tidak terulang kembali. Perlu ada sinergi yang lebih kuat dalam pembinaan karakter agar komunikasi antara guru dan murid berjalan dengan saling menghormati," tambahnya.
IPM Jambi Mendorong Penyelesaian yang Adil
PW IPM Jambi berharap pihak sekolah dan instansi terkait dapat menyelesaikan permasalahan ini secara objektif dan adil berdasarkan aturan yang berlaku. Fokus utama saat ini adalah memastikan lingkungan sekolah kembali stabil dan aman bagi seluruh warga sekolah.
"Harapan kami, kasus ini diselesaikan dengan bijak tanpa mengesampingkan fakta yang ada. Mari kita kembalikan sekolah sebagai tempat yang aman untuk bertukar ilmu, bukan tempat terjadinya gesekan fisik maupun psikis," tutup Ade.-